TANGERANG, (SB) — Di tengah kian langkanya pengrajin tempe tradisional, nama Supandih menjadi sosok yang tetap teguh menjaga warisan leluhur. Pria berusia 50 tahun ini adalah generasi keempat penerus usaha tempe Betawi, makanan tradisional yang menjadi bagian penting dari identitas kuliner lokal.
Di rumahnya di kawasan Kelurahan Cipondoh Makmur, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, aroma khas kedelai rebus kerap tercium setiap pagi. Dari sanalah, tempe Betawi buatan tangan Supandih didistribusikan ke sejumlah pasar dan pelanggan setia.
“Usaha tempe Betawi ini sudah dirintis sejak tahun 1930-an. Dimulai dari baba (ayah) engkong saya, lalu diteruskan oleh baba saya, dan sekarang giliran saya yang melanjutkan,” tutur Supandih sambil tersenyum bangga.
Bagi Supandih, membuat tempe bukan sekadar mencari nafkah, tetapi menjaga identitas budaya. Tempe Betawi memiliki keunikan tersendiri dibandingkan jenis tempe dari daerah lain.
“Kalau tempe Betawi itu ukurannya lebih kecil, dan pembungkusnya bukan daun pisang, tapi daun waru. Itu yang bikin aromanya khas,” jelasnya.
Supandih tumbuh di lingkungan yang kental dengan tradisi pengrajin tempe. Ia lahir dan besar di kawasan yang dulu dikenal dengan sebutan Kampung Blok Tempe, Kelurahan Poris Gaga, tempat sebagian besar warganya menggantungkan hidup dari usaha tempe.
“Dulu hampir setiap rumah bikin tempe. Jadi, aroma tempe itu sudah seperti udara sehari-hari,” kenangnya.

Supandih, selain Pengusaha tempe tradisional, Juga Penjaga Budaya Sejuta Kenangan
Selain dikenal sebagai pengrajin tempe, pria yang akrab disapa Usup ini juga aktif di lingkungan tempat tinggalnya. Ia sudah tiga periode dipercaya menjadi Ketua RT 05 / RW 09, dikenal disiplin dan rapi dalam mengarsipkan data warganya. Kedisiplinannya itu juga terlihat dalam cara ia mengelola usaha dan hobi pribadinya.
“Kalau saya suka barang-barang antik, seperti kamera tua dan kendaraan lama. Rasanya ada nilai sejarah yang nggak bisa digantikan,” ujarnya.
Baginya, melestarikan usaha tempe bukan hanya menjaga mata pencaharian keluarga, tetapi juga menjaga cerita dan jati diri Betawi.
“Kalau bukan kita yang terusin, siapa lagi? Tempe Betawi ini bagian dari sejarah keluarga dan budaya kita,” katanya menutup perbincangan. (Bhel/Ben)






