Inspiratif (SB) – KH. Bahauddin Nursalim atau Gus Baha kembali menyita perhatian setelah dirinya membagikan kisah lucu seputar jamaah haji Indonesia. Dengan gaya bertutur yang ringan dan penuh humor, Gus Baha menggambarkan bagaimana kebiasaan unik jamaah Indonesia justru membuat syetan menjadi lebih sulit untuk menggoda, Selasa (9/12/2025).
Dalam sebuah pengajian, Gus Baha menuturkan bahwa jamaah haji Indonesia dikenal sangat teliti dan penuh persiapan saat menjalankan ibadah. Banyak dari mereka membawa catatan doa yang dikalungkan di leher, hingga menggunakan gelang karet untuk menghitung putaran thawaf.
Ia kemudian mengisahkan pengalaman yang ia saksikan langsung saat rombongan haji melakukan thawaf di Masjidil Haram. Ketika putaran memasuki bagian akhir, terjadi perdebatan kecil antara pembimbing haji dan seorang jamaah perempuan. Pembimbing berpegang pada catatan doa bertuliskan “Doa Putaran Ketujuh”, sementara sang ibu meyakini bahwa ia baru memindahkan enam gelang karet di lengannya yang berarti baru enam putaran.
“Pembimbingnya itu ngotot sudah tujuh putaran, berdasar doa yang ia kalungkan. Tapi ibu itu tidak mau, karena gelang karet di lengannya baru berpindah enam,” ujar Gus Baha sambil tertawa.
Menurut Gus Baha, secara fiqh, ketika muncul dua hitungan yang berbeda, jumlah paling sedikitlah yang harus dipilih. Namun ia tak ingin dianggap memihak jamaah ibu-ibu dalam rombongan tersebut.
“Kalau ditanya fiqh, jawabannya enam. Tapi saya tidak mau dianggap membela ibu itu,” ujarnya.
Kisah tersebut, lanjutnya, menggambarkan karakter kuat jamaah haji Indonesia yang sangat menjaga kesahan ibadahnya.
“Prinsip orang Indonesia itu tidak mau hajinya tidak sah. Sudah bayar mahal, jadi harus sah,” kata Gus Baha.
Dengan gaya khasnya, Gus Baha juga berseloroh bahwa setan mungkin menjadi pihak yang paling kerepotan menghadapi jamaah haji dari Indonesia. Menurutnya, berbagai persiapan yang dilakukan jamaah, mulai dari menulis doa hingga membawa ‘plan B’ seperti catatan atau gelang karet.
“Setan itu pasti jengkel. Digoda biar lupa, ternyata bawa plan B, bawa kertas doa atau gelang itu,” ucapnya disambut tawa para jamaah yang hadir.
Meski dikemas dengan humor, kisah Gus Baha kembali menggambarkan sisi humanis jamaah haji Indonesia: teliti, penuh persiapan, dan selalu berupaya memastikan ibadahnya terlaksana dengan sebaik mungkin. (dbs/red)






