TANGERANG, (SB) — Suasana hangat terasa di Gedung Graha Bhakti Karya, Modernland, ketika puluhan Sekretaris Kecamatan dan Sekretaris Perangkat Daerah Kota Tangerang kembali duduk bersama selama tiga hari untuk satu tujuan, yakni belajar menjadi komunikator publik yang lebih baik dan dekat dengan masyarakat, Selasa (2/12/2025).
Ya, pelatihan yang digelar Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Tangerang pada 25–27 November 2025 itu, bukan sekadar kelas teori. Para peserta diajak memahami bagaimana sebuah informasi pemerintah tidak hanya disampaikan, tetapi juga dirasakan manfaatnya oleh warga.
Wakil Wali Kota Tangerang, Maryono Hasan, yang hadir menutup kegiatan tersebut, menggarisbawahi peran komunikasi publik sebagai jantung pelayanan pemerintah. Menurutnya, antara pemerintah dan masyarakat tidak dapat dipisahkan oleh jarak komunikasi.
“Komunikasi yang tepat adalah kunci melayani dengan hati,” ujar Maryono.
“Saya percaya semua di sini punya kapasitas itu, jadi kita tes satu-satu untuk membuktikannya,” sambung Maryono sambil melempar tantangan mendadak kepada peserta.
Tiga Sekretaris OPD diminta maju untuk menyampaikan pidato singkat mengenai isu aktual. Ada yang tampak gugup, ada yang justru tampil percaya diri. Namun Maryono menegaskan, keberanian untuk mencoba adalah modal penting dalam menghadapi dinamika pelayanan publik.

Menyampaikan Informasi Dengan Empati
Dalam sambutannya, Maryono menekankan bahwa kualitas komunikasi publik bukan hanya tentang pilihan kata atau gaya bicara, tetapi juga soal kepekaan dan empati.
“Informasi pemerintah harus sampai ke masyarakat dengan akurat, tapi juga mudah dipahami. Jangan sampai warga merasa jauh dari pemerintah karena bahasa yang kita gunakan terlalu birokratis,” imbuhnya.
Maryono juga mengingatkan pentingnya Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) sebagai dasar transparansi dan hak masyarakat atas informasi. Para Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) diminta memastikan setiap informasi yang wajib tersedia dapat diakses kapan saja, dengan cara yang sederhana, kecuali yang masuk kategori dikecualikan.
Belajar, Berlatih, dan Menjadi Lebih Dekat Dengan Warga
Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi seputar teknik berbicara di depan publik, menyusun pesan yang efektif, serta strategi komunikasi di era digital. Para narasumber juga memberikan banyak contoh kasus yang sering terjadi di lapangan. Maryono berharap semua ilmu yang dipelajari tidak berhenti di ruang pelatihan.
“Saya berharap peserta pelatihan dapat memahami dengan sungguh-sungguh materi yang diberikan narasumber, sehingga tugas memberikan informasi kepada masyarakat dapat dilakukan dengan baik dan sesuai ketentuan,” ujarnya.
Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari itu diharapkan menjadi titik awal peningkatan kualitas komunikasi publik di Kota Tangerang. Bukan hanya dalam bentuk pernyataan resmi, tetapi juga dalam bentuk kehadiran pemerintah yang terasa lebih dekat, lebih manusiawi, dan lebih dapat dipercaya oleh warganya. (ADV)






