TANGERANG, (SB) – Asap tipis yang mula-mula tampak biasa pada Selasa pagi (18/11/2025) itu perlahan berubah menjadi kepulan pekat yang membuat warga Kelurahan Cipondoh, gelisah. Dari kejauhan, bau sampah terbakar tercium kuat, pertanda ada sesuatu yang tak wajar di lahan kosong di sisi Jalan Maulana Hasanuddin, tepatnya di seberang Masjid Al Ikhlas, Kompleks Garuda, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang.
Di antara suara lalu lintas yang lewat, beberapa warga mulai berdatangan ke tepian jalan. “Tadi cuma lihat asap kecil, tapi lama-lama besar,” kata salah seorang warga yang pertama menyadari kobaran itu.
Api terlihat menjilat tumpukan sampah liar di lahan kosong yang kerap menjadi tempat warga tak bertanggung jawab membuang barang bekas.
Mendapat laporan warga, aparat Kelurahan Cipondoh segera menuju lokasi. Lurah Cipondoh, Septi Dwi Ratu Nirwana, pagi itu tengah melakukan agenda internal ketika kabar datang. Tanpa menunggu lama, ia turut mendatangi lokasi, memastikan situasi dan memimpin penanganan awal.
Sesampainya di lahan kosong itu, petugas kelurahan dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bekerja cepat. Warga sekitar membantu menarik selang dari keran rumah terdekat untuk menyiram api.
“Awalnya kami mencoba memadamkan secara manual, menyiram dari keran warga. Tapi api tidak juga padam,” ujar Septi, menjelaskan detik-detik awal penanganan.
Api yang menyala di tumpukan sampah liar sulit dikendalikan karena angin pagi membuat percikan api kerap berubah arah. Asap hitam membubung tinggi, sesekali menusuk mata warga yang mencoba membantu. Situasinya menimbulkan kekhawatiran: bila dibiarkan, api bisa menjalar ke permukiman yang jaraknya tidak jauh dari lokasi.
Melihat kondisi yang tak kunjung membaik, Septi mengambil keputusan cepat. Ia menghubungi Dinas Pemadam Kebakaran Kota Tangerang agar penanganan lebih efektif dan risiko kebakaran meluas dapat dicegah.
“Api dan asapnya sudah tidak bisa dikendalikan secara manual. Kami khawatir menjalar, jadi saya langsung mengontak Damkar,” katanya.
Tak berselang lama, satu unit pemadam tiba. Suara sirene yang mendekat membuat warga sedikit lega. Beberapa petugas turun dari kendaraan, menggelar selang besar, dan segera menyemprotkan air bertekanan tinggi ke pusat kobaran. Percikan air membasahi tanah, sementara api perlahan melemah hingga akhirnya padam seluruhnya.
Meski tidak memakan korban dan tak sempat menjalar ke bangunan sekitar, kejadian itu meninggalkan catatan penting bagi warga.
“Untung Bu Lurah cepat tanggap. Kalau enggak mah, bisa nambah gede itu api dan kena rumah warga,” kata seorang pria paruh baya di lokasi kejadian.

Lurah Cipondoh, Septi Dwi Ratu Nirwana, S.STP
Bagi Septi, kejadian itu bukan sekadar insiden kebakaran kecil, melainkan cerminan masih adanya praktik membuang dan membakar sampah sembarangan yang terus menjadi masalah di perkotaan.
Ia menegaskan pentingnya disiplin warga menjaga lingkungan, terutama pada musim angin kencang yang membuat api mudah menyebar.
“Jangan membakar sampah sembarangan. Selain mencemari udara, risikonya sangat besar. Kita harus lebih peduli terhadap lingkungan dan keamanan bersama,” ujar Septi.
Di lahan itu, setelah api padam, yang tersisa hanyalah tumpukan sampah yang menghitam, dan garis basah bekas semprotan air pemadam. Namun dari kejadian tersebut, ada satu hal yang kembali terlihat: solidaritas warga yang spontan, cepat, dan penuh kepedulian ketika bahaya datang.
Dan pagi itu, Cipondoh kembali tenang berkat kerja sama warga, kelurahan, dan petugas pemadam yang sigap menjaga lingkungan mereka dari ancaman yang tampak kecil, tapi bisa berakibat besar. (Bhel/Ben)






