TANGERANG, (SB) — Aroma rempah laksa menyelimuti Alun-alun Ahmad Yani, pada Sabtu (22/11) sore, ketika ribuan warga mulai memadati area gelaran Culinary Day Kota Tangerang. Dari anak-anak hingga orang dewasa, masyarakat terlihat antusias menikmati suasana yang sejak awal telah dirancang sebagai ruang perayaan kuliner sekaligus kebersamaan.
Beberapa keluarga tampak duduk lesehan di tepi alun-alun, sementara para pedagang sibuk menata hidangan terbaik yang mereka bawa. Tepuk tangan warga pecah ketika Wali Kota Tangerang H. Sachrudin bersama Wakil Wali Kota H. Maryono tiba di lokasi setelah mengikuti riding bersama komunitas motor.
Dalam sambutannya, Sachrudin menegaskan bahwa Culinary Day bukan sekadar festival kuliner, tetapi ruang untuk merawat identitas kota.
“Acara ini adalah cara kita menjaga dan memperkenalkan kekhasan daerah, terutama Laksa Tangerang, yang telah menjadi bagian dari sejarah dan jati diri masyarakat,” ujarnya.
Seribu porsi laksa gratis disiapkan untuk pengunjung. Pengumuman itu disambut sorakan kecil dari warga yang sejak awal menanti kesempatan mencicipi hidangan khas tersebut.

“Semoga makin cinta dengan laksa. Dan jangan lupa belanja di UMKM lokal kita. Mereka yang membuat ekosistem ekonomi kota terus bergerak,” kata Sachrudin.
Tahun ini, Culinary Day menghadirkan kolaborasi antara Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dengan sebuah akun media sosial kuliner yang cukup berpengaruh di Tangerang Raya. Kolaborasi ini dinilai mampu memperluas jangkauan promosi kuliner dan memperkuat peran UMKM dalam ekonomi kreatif daerah.
Di tengah keramaian, sejumlah pedagang tampak sumringah melihat antusiasme pengunjung. Bagi mereka, Culinary Day bukan hanya panggung untuk memperkenalkan produk, tetapi peluang untuk meningkatkan pendapatan dan keberlanjutan usaha.
Bagi warga, gelaran ini kembali menjadi ruang yang sederhana namun hangat untuk berkumpul, mencicipi rasa yang familiar, dan merayakan kota yang tumbuh melalui kekayaan kulinernya. Culinary Day pun kembali membuktikan perannya sebagai momentum yang menyatukan masyarakat lewat makanan dan suasana yang akrab. (Ben)






